mencari penghasilan tambahan

December 25th, 2007 by momoet

MENCARI PENGHASILAN TAMBAHAN

Kalau Anda membaca NOVA
yang lalu, Anda mungkin ingat bahwa saya pernah menyarankan kepada Anda agar
pada tahun 2001 ini Anda sebaiknya mencoba mencari penghasilan tambahan dengan
menjalankan usaha sampingan.

Kenapa sih Anda perlu
penghasilan tambahan? Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya (dan
seringkali saya ulang-ulang), bahwa salah satu kunci kesejahteraan keuangan
dalam keluarga sebetulnya bukanlah di seberapa besar jumlah penghasilan Anda,
tapi bagaimana Anda mengelola penghasilan tersebut. Berapapun besarnya
penghasilan dalam keluarga Anda, kalau Anda tidak bisa mengelolanya dengan
baik, maka kesejahteraan tidak akan bisa Anda raih.

Namun demikian, apakah Anda
sebaiknya tidak usah menambah penghasilan dalam keluarga Anda? Tidak juga.
Penghasilan yang besar memang tidak menjamin bahwa keluarga Anda bisa mencapai
kesejahteraan keuangan, tapi penghasilan yang besar bisa membantu keluarga Anda
mencapai kesejahteraan. Jadi sekali lagi, penghasilan yang besar tidak
menjamin, tetapi hanya membantu. Karena itu, akan lebih baik kalau Anda bisa
menambah sumber penghasilan Anda.

Ada

sejumlah cara untuk menambah
penghasilan dalam keluarga Anda:

1. Bekerja sebagai karyawan
2. Bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian
3. Menjalankan Usaha Sampingan
4. Berinvestasi

Bekerja Sebagai Karyawan

Anda bisa mendapatkan penghasilan
tambahan dengan bekerja di sebuah perusahaan. Anda bisa bekerja sebagai seorang
sekretaris, karyawan bagian pembukuan, administrasi, atau apa pun itu. Yang
penting, Anda mendapatkan gaji. Jadi kalau pada saat ini Anda tidak bekerja dan
hanya suami Anda yang bekerja (sebagai karyawan juga misalnya), maka dengan
sekarang Anda juga bekerja sebagai karyawan, maka akan ada dua gaji dalam
keluarga Anda.

Atau, kalau misalnya pada
saat ini Anda sudah bekerja sebagai seorang karyawan, mungkin Anda bisa menjadi
karyawan juga di tempat lain. Jadi Anda mendapatkan dua gaji. Seorang teman
saya bekerja di sebuah perusahaan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sedangkan
malamnya dia juga bekerja di sebuah restoran dari jam 6 sore sampai jam 10
malam. Dia mendapatkan dua gaji dalam sebulan.

Apa sih kelebihan dan
kekurangannya dengan bekerja sebagai karyawan? Yang jelas, bekerja sebagai
karyawan memang enak, karena Anda tinggal datang, bekerja, dan pada akhir bulan
mendapatkan gaji. Anda cuma perlu menuruti aturan jam kerjanya saja.

Kekurangannya, tentu saja,
bahwa kalau Anda tidak bekerja, Anda tidak akan mendapatkan gaji. Sederhana
sekali. Itulah sebabnya banyak orang yang sudah berusia 50 - 60 tahun tetapi
masih tetap bekerja sebagai karyawan karena takut tidak mendapatkan gaji lagi
bila dia tidak bekerja.

Bekerja Sendiri dengan Mengandalkan Keahlian

Kalau Anda punya keahlian
khusus, Anda bisa bekerja dan mendapatkan honor dari situ. Contohnya, kalau
Anda bisa menyanyi, Anda bisa menyanyi di pesta-pesta dan mendapatkan honor.
Mungkin Anda bisa mengajar? Yah, kalau Anda bisa mengajar, Anda bisa mengajar
dan mendapatkan honor.

Bekerja sendiri harus
dibedakan dengan bekerja sebagai karyawan. Sebagai karyawan Anda mendapatkan
gaji, sedangkan di sini Anda tidak mendapatkan gaji, tetapi mendapatkan honor.
Contoh mereka yang bekerja dengan mengandalkan keahlian dan mendapatkan honor
pada umumnya adalah artis yang main sinetron, atau dokter dan arsitek yang
membuka praktek sendiri dengan mendapat bayaran dari pasien atau kliennya.

Kalau Anda perhatikan,
sebetulnya hampir setiap orang punya keahlian atau keterampilan khusus yang
bisa dijual. Masalahnya di sini adalah apakah Anda berani menjadikan keahlian
atau keterampilan yang Anda miliki itu untuk bisa dijual kepada khalayak?

Kelebihan bekerja sendiri
dengan mengandalkan keahlian adalah bahwa Anda akan mendapatkan penghasilan
yang memang sesuai dengan keahlian Anda. Artinya, Anda akan termotivasi untuk
lebih memperdalam keahlian Anda sehingga akan mendapatkan bayaran yang lebih.
Kekurangannya adalah, kalau Anda tidak bekerja (absen), Anda tidak akan
mendapatkan bayaran.

Menjalankan Usaha Sampingan

Kenapa Anda tidak mencoba
menjalankan sebuah usaha sampingan? Anda bisa membuka toko atau warung. Anda
bisa buka biro jasa yang menjual segala macam jasa. Mungkin juga sebuah usaha
jahitan. Kenapa Anda tidak mencobanya?

Yang penting di sini, usaha
sampingan tersebut suatu saat kelak bisa Anda serahkan pengelolaannya kepada
anak buah yang Anda percayai, sehingga Anda tidak perlu terlibat terus di
dalamnya seumur hidup Anda. Toko misalnya. Anda mungkin bisa membuka sebuah
toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Setelah beberapa bulan,
Anda

kan

bisa menyerahkan pengelolaannya kepada anak buah Anda (yang
Anda gaji tentunya), sehingga Anda bisa enak nonton teve di rumah tapi bisa
tetap mendapatkan hasil keuntungan dari toko tersebut tiap bulannya. Inilah
yang menjadi kelebihan dari menjalankan usaha sendiri.

Mungkin Anda berpikir bahwa
untuk bisa berhasil dalam usaha perlu modal uang yang cukup besar. Tapi Anda
boleh tidak percaya, kesuksesan sebuah usaha seringkali tidak tergantung pada
besarnya modal Anda. Silakan toleh di sekeliling Anda, ada banyak orang yang
berhasil dalam usahanya dengan modal yang hanya sedikit. Yang paling penting di
sini adalah ide.

Ada

memang beberapa usaha yang
membutuhkan modal awal yang cukup besar, tapi banyak juga bidang usaha yang
tidak membutuhkan modal awal yang terlalu besar. Yang paling penting di sini
adalah bagaimana Anda bisa "mengakali" jumlah uang yang Anda miliki
sekarang agar cukup untuk bisa menjalankan ide bisnis di kepala Anda. Dengan
menjalankan sebuah usaha, Anda otomatis lebih terlatih untuk bisa mandiri dan
bertahan hidup. Itulah yang menjadi salah satu kelebihan lain dari menjalankan
usaha sendiri.

Berinvestasi

Anda punya uang berlebih?
Kenapa tidak menginvestasikannya saja? Jika Anda punya Rp 1 juta, mungkin itu
bisa Anda depositokan. Anda akan dapat bunga, dan bunga itulah tambahan
penghasilan Anda.

Anda punya barang yang
tidak Anda pakai? Perabot misalnya? Kenapa Anda tidak menjualnya dan
menginvestasikan uangnya dengan membeli emas, misalnya. Setelah satu dua tiga
tahun, mudah-mudahan saja harga emas itu naik. Nah, selisih kenaikan harga itu
adalah tambahan penghasilan bagi Anda.

Bagi Anda yang masih lajang
(tidak punya tanggungan) dan tinggal di rumah sendiri, kenapa Anda tidak kos
saja dan mengontrakkan rumah Anda? Dengan demikian, Anda akan mendapatkan
tambahan penghasilan dari pemasukan sewa rumah setiap bulan atau setiap
tahunnya. Atau kalau rumah Anda agak besar, kenapa Anda tidak menyewakan satu
dua kamar di antaranya untuk dijadikan kos-kosan kecil-kecilan? Anda akan dapat
pemasukan tambahan dari uang kosnya,

kan

?

Yang Penting Kemauan

Mencari Penghasilan
Tambahan sebetulnya tidak sulit. Yang penting Anda punya kemauan. Bila Anda
tidak memiliki kemauan untuk mau mendapatkan penghasilan tambahan, maka cara
apa pun yang ditunjukkan kepada Anda akan sulit Anda terima.

Jadi, semua berawal dari
kemauan. Jika memang tidak ada kemauan, ya, keadaan Anda tetap seperti
sekarang. Tapi bila Anda memang mau, Anda punya 4 pilihan untuk mendapatkan
penghasilan tambahan seperti di atas. Silakan pilih yang mana.

 

December 25th, 2007 by momoet

BISNIS
JARINGAN PEMASARAN (1)

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 728/XIII

Tertarikkah Anda memiliki sebuah bisnis yang bermodal kecil? Sudah modalnya kecil, risikonya juga kecil. Anda bisa melakukan bisnis ini di mana pun Anda berada, kapan pun Anda menginginkannya, dan ­ yang paling enak - ada konsultan yang akan memberikan saran-saran yang Anda butuhkan agar Anda bisa berhasil di bisnis tersebut.

Bila selama ini Anda selalu punya keinginan untuk memiliki bisnis sendiri, mungkin bisnis seperti itulah Anda butuhkan. Mungkin Anda terperangah. Apa iya bisnis semacam itu? Ada dong. Malah, banyak sekali orang yang sudah berbondong-bondong menjalankan bisnis ini, yang ­ ketika pada awalnya umumnya dilakukan secara sampingan, sebelum akhirnya - dilakukan secara full time.

Tertarik? Simak lebih lanjut.

GAMBARAN SEDERHANA

Saya akan coba menggambarkan bisnis ini dengan sebuah cara yang sederhana. Pertama-tama, saya ingin Anda memejamkan mata dan mencoba mengingat-ingat: pernahkah dalam suatu waktu dalam hidup Anda, Anda menjual sesuatu kepada teman Anda? Anda memiliki seorang teman dan Anda menjual ­ katakan ­ jam tangan Anda pada dia.

Ya, mungkin tidak harus jam tangan. Anda mungkin pernah menjual sebuah baju, sebuah celana, atau sepasang sepatu. Ingat, Anda tidak memiliki bangunan untuk Anda memajang barang-barang tersebut, tapi hanya ada Anda, barang yang Anda jual, dan pembeli Anda.

Pernah? Saya rasa hampir 90 persen Anda pernah melakukannya. Oke, sekarang apa yang Anda dapatkan dari penjualan tersebut? Yang jelas Anda akan mendapatkan keuntungan eceran, di mana Anda membeli barang tersebut dari suatu tempat entah di mana dengan harga tertentu, dan Anda menjual lagi barang itu kepada teman Anda dengan harga yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, Anda membeli barang dengan harga Rp 10.000, dan menjual lagi barang itu dengan harga Rp 13.000 . Selisih antara harga jual dan harga beli itulah keuntungan eceran Anda.

Nah, itu baru dari satu barang. Sekarang bayangkan kalau Anda tidak hanya memiliki satu barang untuk dijual, tapi belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan barang. Ibaratnya, Anda seperti toko serba ada, di mana apa saja yang orang butuhkan, Anda memilikinya. Yang jelas, ini berarti Anda akan memiliki bukan hanya keuntungan eceran dari satu barang saja, tapi dari banyak sekali barang yang Anda jual.

HARUS ADA BANGUNAN?

Kalau mau jualan, kita mesti punya semacam toko, dong. Begitu mungkin Anda berpikiri. Ternyata tidak selalu demikian. Lho, lalu bagaimana orang tahu bahwa Anda memang menjual barang-barang tersebut? Jawabannya adalah dari perkenalan. Kalau Anda dikenal oleh teman-teman Anda satu sekolah dulu bahwa Anda sering menjual jam tangan, maka setiap kali teman-teman Anda akan mencari jam tangan, mereka pasti akan datang kepada Anda. Itu karena Anda sudah dikenal sebagai penjual jam tangan. Jadi di sini, Anda tidak perlu punya bangunan untuk memajang barang-barang Anda kan? Anda hanya perlu dikenal sebagai penjual barang tersebut.

Namun demikian, katakan saja Anda memiliki bangunan untuk memajang barang-barang jualan Anda, mungkin penjualan Anda akan meningkat. Akan tetapi sebanyak-banyaknya barang daganga, mentok-mentoknya berapa sih? Ditambah lagi, adanya bangunan mungkin membuat Anda harus memiliki waktu khusus untuk menjaga toko Anda.

Perlu diingat pula, Anda mungkin harus membeli stok dalam jumlah yang cukup banyak karena barang-barangnya memang banyak sekali. Ini berarti, Anda harus keluar modal yang cukup besar. Jadi di sini, Anda memang akan mendapatkan keuntungan eceran. Tapi keuntungan itu baru akan Anda dapatkan kalau Anda menjual. Nah kalau Anda sakit bagaimana? Keuntungan eceran Anda mungkin akan berhenti.

MEMBANGUN JARINGAN PEMASARAN

Jadi, daripada Anda mengandalkan diri Anda sendiri (di mana bisa saja sewaktu-waktu Anda sakit dan terpaksa harus berhenti menjual), kenapa Anda tidak membangun jaringan orang yang melakukan persis seperti yang Anda lakukan?

Jadi disini, apa yang Anda lakukan adalah dengan membuka sebuah jaringan pemasaran (network marketing). Di dalam jaringan tersebut terdapat belasan, puluhan, bahkan mungkin ratusan ribu orang yang melakukan penjualan persis seperti yang Anda lakukan. Masing-masing dari mereka akan mendapatkan keuntungan eceran persis seperti yang Anda dapatkan. Sehingga kalau Anda berhenti dan tidak bisa menjual, entah karena sakit atau karena apa pun, jaringan pemasaran Anda akan terus menjual dengan atau tanpa Anda.

Kalau dilihat, bisnis ini mirip-mirip seperti bisnis waralaba. Es Teler 77 misalnya. Es Teler 77 adalah nama sebuah warung makanan dan minuman yang sangat terkenal milik pengusaha Indonesia bernama Sukyatno Nugroho. Saya tidak pernah melihat catatan keuangannya, tapi yang jelas Es Teler 77 didatangi banyak sekali pengunjung, entah untuk sekadar minum es, makan bakso, mi ayam, siomay atau apa pun itu.

Nah, bila Es Teler 77 hanya memiliki satu tempat saja (selanjutnya kita sebut outlet), maka bila outlet itu ramai, mungkin akan makin besar keuntungan yang didapatkan oleh pemiliknya. Namun akibatnya dalam jangka panjang satu outlet tersebut harus terus-menerus buka untuk bisa terus mendapatkan pengunjung yang datang. Coba bayangkan apa yang akan terjadi bila terjadi sesuatu dan outlet tersebut terpaksa tidak bisa dibuka?

Di sini, pemilik Es Teler 77 bisa buka cabang. Dia bisa membuka 1, 2, 10, bahkan 100 cabang. Masalahnya, seringkali buka cabang itu butuh biaya. Semakin banyak cabang yang dibuka, akan makin besar biaya yang dibutuhkan. Pemilik Es Teler 77 bisa saja menawarkan hak untuk membuka Es Teler 77 itu kepada pihak lain yang memiliki modal. Sebagai contoh, kalau Anda punya uang sejumlah minimal tertentu, Anda bisa datang ke kantor Es Teler 77, dan membeli hak untuk bisa membuka cabang Es Teler 77.

Kalau Anda lulus tes, maka Anda akan mendapat dukungan berupa pembagian rahasia resepnya, konsep pelayanannya, desain interior yang disarankan, dan sebagainya dan sebagainya yang memang sudah terbukti berhasil menarik pengunjung. Makanya kalau Anda datang ke outlet Es Teler 77 di mana pun, pelayanannya sudah baku. Mulai dari seragam pelayannya, sampai cita rasa makanan yang disajikan.

Lalu apa yang didapatkan oleh pemilik awal Es Teler 77 dari outlet yang Anda buka? Jawabannya ini: Anda harus membagi hasil penjualan Anda setiap tahunnya kepada pemilik awal Es Teler 77. Ini disebut royalti. Semakin banyak orang yang tertarik memiliki outlet Es Teler 77, semakin besar royalti yang masuk ke pemilik awal. Dan biasanya, jumlah outlet yang dibuka bisa lebih banyak dengan sistem waralaba daripada kalau pemilik Es Teler 77 itu membuka cabang dengan biaya sendiri. Ini juga yang terjadi pada Restoran McDonald, di mana sekarang rata-rata ada satu cabang McDonald yang buka tiap harinya di seluruh penjuru dunia, sehingga dari tahun ke tahun, royalti yang masuk ke pemilik awal McDonald bukannya mengecil tapi malah makin besar.
Anda
tak harus melakukan sendiri penjualan barang-barang dagangan Anda.
Sebab, Anda dapat membuka jaringan pemasaran di mana di situ terdapat
orang-orang yang melakukan persis seperti yang Anda lakukan. Bagusnya
lagi, kalau jaringan pemasaran Anda sudah cukup besar, Anda tidak perlu
menjual banyak-banyak. Anda cukup menjual sedikit, tapi bila tiap orang
dalam jaringan Anda juga menjual sedikit, total omzet dalam jaringan
pemasaran Anda sudah menjadi sangat besar. Di sini, selain keuntungan
eceran, Anda juga akan mendapatkan penghasilan berupa persentase
pembagian dari omzet penjualan dalam jaringan Anda. Menarik, kan?

Bahkan,
kalau jaringan pemasaran Anda sudah memenuhi syarat omzet tertentu
juga, Anda bisa saja tidak perlu lagi terus menjalankan usaha ini,
karena jaringan pemasaran Anda nanti yang akan memberikan penghasilan
kepada Anda. Jadi, Anda hanya bekerja sebentar selama beberapa tahun
dalam membangun jaringan, dan ketika jaringan itu sudah "jadi",
jaringan itulah yang akan menjadi aset dan memberikan Anda penghasilan
secara rutin (bahkan mungkin makin besar) dari tahun ke tahun,
selama-lamanya, terlepas dari apakah Anda masih aktif atau tidak bahkan
masih hidup atau tidak.

Bahkan,
penghasilan itu bisa Anda wariskan kepada anak cucu Anda kelak. Jadi di
sini, fokus Anda adalah membuat jaringan, bukan melulu menjual barang.

SESUAI WAKTU LUANG

Dalam
prakteknya, untuk bisa menjalankan bisnis jaringan pemasaran, Anda
harus terdaftar di sebuah perusahaan penyedia barang dan jasa seperti
yang saya ceritakan di atas tadi. Perusahaan itulah yang akan
menyediakan barang dan jasa kepada Anda, untuk lalu Anda jual kepada
pembeli dan pelanggan Anda.

Untuk
bergabung, Anda harus disponsori oleh seseorang yang sudah lebih dulu
bergabung dalam bisnis tersebut. Dialah yang akan memperkenalkan Anda
kepada barang dan jasa yang dijual oleh perusahaan, dan juga
memperkenalkan bisnis ini kepada Anda.

Pada
gilirannya, ketika Anda mulai membangun jaringan dengan menceritakan
bisnis ini kepada rekan-rekan Anda dan mensponsori mereka, maka seluruh
garis sponsorisasi itu akan dicatat oleh perusahaan. Ini karena ketika
Anda dan rekan-rekan Anda mendaftar, di formulir pendaftarannya
terdapat kolom tentang siapa nama sponsornya, di mana semua ini
nantinya akan dicatat oleh perusahaan dan masuk ke dalam data-data di
komputernya.

Di
bisnis seperti ini, modal yang dibutuhkan umumnya tidak seberapa. Mulai
dari beberapa puluh hingga ratusan ribu rupiah saja. Ini tentunya
berbeda dengan bisnis-bisnis konvensional lain yang membutuhkan modal
minimal sejumlah beberapa juta rupiah. Itu pun belum tentu berhasil.
Karena kecilnya modal yang dibutuhkan di bisnis ini, otomatis risikonya
hampir tidak ada.

Bagaimana
mengenai tempatnya? Dalam bisnis ini, Anda bisa menjalankannya di mana
pun Anda berada, karena untuk menjalankan bisnis ini Anda cukup hanya
bermodalkan kertas dan pena sehingga praktis Anda bisa melakukannya di
mana saja. Ditambah lagi, Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan atau
bisnis Anda sekarang, karena bisnis ini bisa Anda atur waktunya sesuai
dengan waktu luang yang Anda miliki.

Yang
paling menarik, bisnis jaringan pemasaran yang baik biasanya juga
memberikan Anda sebuah cara yang sudah terbukti berhasil dijalankan
sebelumnya. Sehingga siapa pun dari Anda tidak perlu memiliki keahlian
khusus lebih dulu dalam menjalankan bisnis ini, karena sponsor Anda
akan bertindak seperti konsultan mengajarkan cara-cara tersebut kepada
Anda.

PENGHASILAN BISA BESAR

Bagaimana
dengan perolehan penghasilan? Dalam bisnis jaringan pemasaran,
seseorang bisa mendapatkan potensi penghasilan yang tidak ada batasnya.
Ini karena bisnis jaringan pemasaran adalah sebuah bisnis duplikasi.
Sehingga bila jaringan Anda memenuhi kualifikasi tertentu, penghasilan
Anda nantinya bukannya malah menurun, tapi terus meningkat karena
duplikasi dalam jaringan Anda juga meningkat.

Sebagai
informasi saja, penghasilan yang bisa didapat dari bisnis ini adalah
dari puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Bahkan hingga miliaran
rupiah. Di Amerika Serikat saja, sekitar 20 persen jutawan di sana
mendapatkan penghasilan dari bisnis jaringan pemasaran.

Kenapa
seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang begitu besar dari bisnis
ini? Karena penghasilan itu dihasilkan dari penjualan barang dan jasa
yang dengan cepat meningkat jumlahnya, sementara biaya pengoperasian
bisnis Anda rendah saja. Perusahaan penyedia barang dan jasa Anda tidak
perlu mengeluarkan uang untuk menyewa gedung, pegawai, iklan dan tempat
stok barang.

Dengan
demikian, perusahaan penyedia barang dan jasa Anda bisa memberikan uang
yang seharusnya digunakan untuk biaya-biaya tersebut di atas, sebagai
penghasilan Anda.

TIDAK PERLU
KEAHLIAN KHUSUS

Apakah Anda
pernah tertarik akan suatu hal, dan menceritakan hal tersebut kepada
semua orang di lingkungan Anda? Ketika Anda menonton film yang bagus,
misalnya, kemudian karena Anda sangat menyukainya, Anda menceritakan
film itu kepada rekan-rekan Anda sehingga mereka akhirnya juga
penasaran dan ingin menyaksikannya.

Atau Anda
pernah makan di sebuah restoran yang lezat masakannya? Karena makanan
disitu enak sekali, maka ketika pulang Anda menceritakan hal itu kepada
keluarga Anda dan selanjutnya mengajak mereka ke sana untuk menikmati
makanan itu. Saya pernah melakukannya, dan saya rasa semua orang orang
pernah melakukannya. Paling tidak mereka pernah mempromosikan sesuatu
yang mereka puji atau sukai. Bisa jenis makanan, bisa merek parfum
tertentu, merek sepatu, barang elektronik, hingga jasa binatu sampai
kursus dan sekolah.

Kalau
dipikir-pikir, pemilik bioskop tempat Anda menonton film mungkin tidak
membagikan komisinya kepada Anda. Atau pemilik restoran di mana Anda
datang membawa rekan-rekan Anda, juga tidak akan membagikan makanan
gratis kepada Anda. Tapi toh Anda rela tidak dibayar. Di sini, Anda
sebetulnya sudah melakukan kegiatan menjual atau memasarkan suatu
produk jasa.

Ini menunjukkan
bahwa tiap manusia sebetulnya punya kemampuan menjual. Hanya saja,
mereka sering tidak menyadarinya. Nah, ketimbang kemampuan Anda ini
tidak menghasilkan apa-apa, kenapa tidak Anda manfaatkan agar
menghasilkan sesuatu bagi Anda?

(Tamat)

USAHA

December 25th, 2007 by momoet

Pada prinsipnya, dalam menjalankan usaha, hanya ada 3 jenis modal yang akan Anda keluarkan:

   
1. Modal Investasi Awal
   2. Modal Kerja
   3. Modal Operasional

Mari kita membahasnya satu per satu.

1.MODAL INVESTASI AWAL
Apa sih yang dimaksud modal investasi awal? Ini adalah jenis modal yang harus Anda keluarkan di awal, dan biasanya dipakai untuk jangka panjang. Contoh-contoh modal ini adalah bangunan, peralatan seperti komputer, kendaraan, perabotan kantor dan barang-barang lain yang dipakai untuk jangka panjang.

Kalau usaha Anda usaha bengkel motor, maka modal investasi awal Anda adalah bangunan, alat-alat perbengkelan, dan perabot lain yang dibutuhkan di bengkel tersebut. Kalau usaha Anda toko, maka modal investasi awal Anda adalah rak, meja, bahkan mungkin juga mesin kasir.

Biasanya, modal ini nilainya cukup besar karena dipakai untuk jangka panjang. Tetapi nilai dari Modal Investasi Awal ini akan menyusut dari tahun ke tahun bahkan bisa dari bulan ke bulan.

2.MODAL KERJA
Ini adalah modal yang harus Anda keluarkan untuk membeli atau membuat barang dagangan Anda. Modal kerja ini bisa dikeluarkan setiap bulan, atau setiap datang order.

Sebagai contoh, kalau usaha Anda usaha tempat makan, maka modal kerja yang Anda butuhkan adalah modal untuk membeli bahan makanan. Kalau usaha Anda usaha pem buatan barang kerajinan, maka modal kerja Anda adalah uang yang Anda keluarkan untuk membeli bahan baku. Kalau usaha Anda adalah jasa fotokopi, ya modal kerja Anda uang yang Anda keluarkan untuk membeli kertas, tinta, dan lain sebagainya.

Prinsipnya, tanpa modal kerja, Anda tidak akan bisa menyelesaikan order Anda atau tidak memiliki barang dagangan. Nanti, bisa-bisa Anda malah tidak akan dapat pembeli karena barangnya saja tidak ada. Itulah pentingnya modal kerja.

3.MODAL OPERASIONAL
Modal yang terakhir adalah modal operasional. Modal operasional adalah modal yang harus Anda keluarkan untuk membayar biaya operasi bulanan dari bisnis Anda. Contohnya pembayaran gaji pegawai, pulsa telepon bulanan, PLN, air, bahkan retribusi.

Pos-pos dalam modal operasional ini pada setiap bisnis umumnya hampir sama. Ini karena pada prinsipnya, yang dimaksud dengan modal operasional adalah uang yang harus Anda keluarkan untuk membayar pos-pos biaya di luar bisnis Anda secara langsung. Jadi, Modal Operasional ini biasanya dibayar secara bulanan.

Nah, bagaimana Bapak Ibu? Gampang, kan? Sekarang, Anda bisa menghitung sendiri, kan, modal yang harus Anda keluarkan untuk memulai usaha. Mudah-mudahan bermanfaat ya. (ss)

Alat Bantu

December 23rd, 2007 by momoet

Bisnis dan pekerjaan apapun, alat bantu pasti dapat mempermudah kegiatan
kita. Bayangkan sebuah bisnis besar, raksasa, internasional, 1-2 tahun
40 jt / bulan pasive income; so pasti butuh alat bantu dan team work.
Alat bantu dasar yang perlu Anda mliki sebagai networker TIANSHI: 1.
Starter Pack 2. Net-P 3. Flipchart presentasi / VCD Presentasi 4. Buku
kesaksian 5. Majalah award 6. Buku spesifikasi produk 7. Pertemuan
UNICORE (OPP, NDT, VS, CM, EM) GOOD LUCK!! Lakukan presentasi, Daftar
Net-P, Sampai jumpa di panggung kesuksesan!!

Dupliksi Core Person

December 23rd, 2007 by momoet

Banyak rekan2 yang bilang "OKEY saya serius mau mengejar impian
Saya!!" Tapi toh nggak kemana2 karena bingung ga tau mesti ngapain jg. Unicore sudah menyiapkan standardnya, CORE PERSON,
adalah komitmen dasar untuk membangun usaha yang besar.Jadikan ini
sebagai GOAL Anda untuk memulai usaha ini dengan cara yang benar.
DUPLIKASIKAN!!

  • Minimal *3 
  • Memiliki buku impian 
  • memiliki daftar nama tertulis minimal 100 nama 
  • Presentasi / home meeting minimal 2x per minggu 
  • Memakai minimal 2 jenis produk Tianshi
  • Selesai
    membaca 2 buku utama yang direkomendasikan (Berpikir dan Berjiwa Besar,
    Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain)
     
  • Memiliki, Mendengarkan, dan Membaca "Starter Pack" 
  • Mengikuti NET-P, Program berlangganan 3 atau 6 atau 12 bulan kaset Net-P.

Dan ada 7 Kebiasaan yang perlu kita lakukan setiap hari.

  1. Presentasi minimal 15 x per bulan 
  2. Memakai minimal 2 jenis produk Tianshi per bulan 
  3. Melayani Pelanggan 
  4. Membaca buku yang direkomendasikan minimal 15 menit per hari 
  5. Mendengarkan kaset unicore minimal 1 kaset per hari 
  6. Hadir di setiap pertemuan unicore 
  7. Mernjadi pemain tim yang baik (Good Team Player)
    • Bertanggungjawab atas bisnisnya sendiri 
    • Menjadi tuan rumah di setiap pertemuan (Datang awal pulang akhir) 
    • Melakukan edifikasi, Konsultasi pada Upline setiap bulan, dan No Crosslining 
    • Memiliki GOAL tertulis dan bekerja berorientasi pada GOAL 
    • Memiliki sikap mau belajar dan mau berkembang

Mati2an DUPLIKASIKAN CORE PERSON sejak awal, karena survey membuktikan bahwa leader2 yang berhasil bertahan di usaha ini dan menjadi pemenang adalah mereka yang CORE PERSON. Jadi kenapa mesti menunda IMPIAN Anda???? Kenapa menunda IMPIAN grup Anda???

DO THE BEST, Go to the NEXT STEP!!

Congratulation !!!

December 23rd, 2007 by momoet

PARA PERAIH AWARD DI KONVRENSI INTERNASIONAL KENYA,AFRIKA 28 OKT 2007

Luxury Car (85% Unicore):
Sadra T(Medan), Leonard S (Jogja), Indra F (Jogja), Yimmy Y (Jakarta),
Eddy C (Bali), Franky L (Bandung), Sugih P (Bandung), Dicky (Bandung),
Fauzan (Banjarmasin), Handry W (Bandung), Yunus (Padang), Luh Putu Sri
(Bali), Widodo (Pontianak), Kanisius A (Jakarta), Yustin (Jakarta),
Hepie (Bogor), Jeffry C (Bandung), Zainal (Jakarta), Umar(Aceh),
Miniarti (Samarinda)

Yacht (100% Unicore): Andry L (Bandung)

Yacht+Plane (75% Unicore):
Rizky K (Bandung), Ikwan S (Solo), Fung Yung (Bandung), Ulung
(Bandung), Angelus S (Jakarta), Frans XJ (Bandung), Anjar S (Jogja),
Heri Tj (Jogja)

Yacht+Plane+Villa (100% Unicore): Eddo (Solo), Diah S (Jogja), Irvan S (Bandung), Effendy (Bandung)

Hongkong DisneyLand

December 23rd, 2007 by momoet

Unicore adalah perusahaan support dahsyat yang telah membantu ratusan bahkan ribuan orang berubah…

bahkan perusahaan ini selalu memberikan the best reggard buat mereka-mereka yang telah berhasil menempuh tantangannya..

salah satunya adalah..

Hongkong DisneyLand Dream..

dengan kualifakasi 200 Net_P dijaringan Network mereka, kualifikasi ini akan ditutup bulan April 2008 nanti..

siapapun dengan latar belakang apapun bisa meraihnya…

get it…!!!

info lebih lanjut klik di UNICORE

BannerStore

December 23rd, 2007 by momoet

BANNERSTORE SURABAYA

SOFT OPENNING 18 DESEMBER 2007

BEST VISION….

Next year bakal di Franchisekan Rp.750jt minimal untuk *8 above
>>>>
Bannerstore Bali…
dalam 1 hari bisa menghasilkan 25.000 transaksi dengan rata-rata pembelanjaan 150.000
artinya Omset 1 hari ada 3,75 M
tanpa menghiraukan pembelanjaan per kepala rumah tangga…

Bayangkan BEP terjadi dalam waktu sehari…
dan
Bayangkan bila BANNERSTORE suatu saat adalah milik anda…

anda akan BEBAS UANG ,,
BEBAS WAKTU….

ALASAN / THE REASON

December 23rd, 2007 by momoet

Bermimpi Ala Enterpreneur

 

Kami memilih topik entrepreneur dibanding professional karena kami mempunyai mimpi.
Mimpi untuk memiliki dan mengembangkan bisnis kami sendiri, untuk tidak
bekerja di perusahaan orang lain, untuk tidak digaji namun menggaji
karyawan kita sendiri. Seperti yang ditulis olah Robert Kiyosaki,
penulis best seller “Rich Dad Poor Dad”, “ agar kita bisa
menjadi pengusaha maka kita harus punya mimpi. Kita harus punya tekad
besar, kemauan untuk belajar dan punya kemampuan menggunakan dengan
benar asset kita yang tak lain merupakan pemberian Tuhan. Jadi, seorang
entrepreneur seharusnya berani bermimpi. Apalagi mimpi tidak
perlu biaya. Tetapi, masalahnya belum tentu semua orang punya
keberanian untuk bermimpi.

Sehingga tidak berlebihan jika bermimpi pun membutuhkan sebuah keberanian.
Hal tersebut terjadi karena terkadang kita masih terpaku pada
mitos-mitos yang telah mentradisi di kalangan masyrakat luas. Misalnya,
pada mitos yang mengatakan kalau kita mau sukses kita harus punya gelar
sarjana. Atau banyak diantara kita yang lebih memilih kepastian dan
keamanan dengan bekerja sebagai karyawan di perusahaan orang lain,
karena setiap bulan ada kepastian menerima gaji.

Menjadi seorang entrepreneur bias dimulai siapa saja dan dari mana saja.
Bisa dari lingkungan sekitar atau bahkan berasal dari hobi atau
kegemaran kita sendiri. Jika kita suka memasak, kita bisa membuat usaha
catering kecil-kecilan. Jika kita suka menjahit, kita bisa membuka
usaha konveksi, dsb.

Bahkan
barang yang bagi sebagian orang dianggap sampah, seperti daun-daun
kering, bulu-bulu unggas, batok kelapa dengan sedikit kreatifitas bisa
kita sulap menjadi barang seni yang bernilai ekonomis tinggi.
Atau
mau mengekor bisnis yang sudah mapan dan sukses, seperti membuka rumah
makan ayam goreng ala McD namun dengan harga terjangkau. Yang
terpenting adalah jangan takut memulai dari hal kecil karena sesuatu
yang besar berawal dari sesuatu yang kecil.

Lihat saja kesuksesan AQUA.
Hampir semua orang tahu AQUA dan pernah meminumnya, bahkan sekarang ini
hampir di setiap rumah terdapat gallon AQUA. Padahal pada awal
kemunculannya, AQUA dicemooh banyak orang, bagaimana mungkin orang
menjual air putih yang dimasukkan ke dalah botol, padahal kita dapat
dengan mudah mendapatkannya di rumah, gratis pula. Namun itulah yang
menjadi celah yang dilihat oleh produsen AQUA. Pada saat itu orang
belum melihat kepraktisan yang ditawarkan AQUA. Namun lihat sekarang!

AQUA
diminati banyak orang, bahkan banyak bermunculan merek-merek Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK) lain yang berusaha mengikuti jejak sukses AQUA.
Atau tengok saja salah satu entrepreneur sukses Bill Gates dengan perusahaan Microsoft-nya. Berawal dari mimpinya bahwa nantinya semua orang di dunia ini akan memiliki personal computer
(PC) di rumahnya masing-masing. Dia mulai membangun perusahaan
Microsoft miliknya yang berkembang sangat pesat sehingga
mengantarkannya sebagai salah satu orang paling kaya di dunia.

Intinya, kita harus berani bermimpi dan tekad yang besar untuk mewujudkan mimpi tersebut. Di samping itu kita harus berani menanggung risiko, karena risiko akan selalu ada dalam setiap bisnis. Sebagai seorang entrepreneur kita
harus menjadikan risiko tersebut sebuah tantangan untuk maju. Jangan
takut gagal, karena dari kegagalan itu kita bisa belajar hal-hal yang
tidak kita ketahui dan menjadikan kita lebih baik dalam melangkah.

Oleh
karena itu, kita harus pintar membaca pasar, mencari celah yang masih
kosong, mencari kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi.
Dan yang terpenting, tawarkan sesuatu yang berbeda, yang dapat menjadi competitive advantage sehingga membedakannya dari para pesaing

 

Hal tersebutlah yang mendasari kami ingin menjadi seorang entrepreneur.
Karena kita punya mimpi dan tekad yang besar. Bukankan pekerjaan mulia,
kita bisa membuka lapangan pekerjaan di tengah kondisi ekonomi yang
semakin sulit ini. Untuk itu kita dituntut agar selalu meningkatkan
kemampuan kita dan mengembangkan bisnis kita menjadi lebih besar. Tentu
saja hal tersebut diimbangi dengan kemampuan kita agar selalu kreatif
dan inovatif melihat perubahan di pasar sehingga kita dapat menciptakan
produk yang unik yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen
dan menciptakan kepuasan bagi para konsumen